Dalam Secangkir Kopiku Selalu Ada ....

21.38

Selalu dalam biography saya tertulis coffee addicted. Ya, saya memang maniak kopi. Bagi saya minum kopi bukan untuk menunda atau menghilangkan kantuk tapi minum kopi adalah sesuatu yang harus saya lakukan. Kenapa harus dilakukan?

Sejak kecil saya melihat bapak minum kopi sebelum berangkat kerja dan bapak adalah satu-satunya pencari nafkah di keluarga kami. Saat minum kopi pun bapak terlihat sangat menikmati, entah karena seduhan ibu benar-benar enak atau ingin membuat ibu senang. Yang jelas setelah minum kopi, bapak berangkat kerja dengan semangat.


Saya pun mencobanya, biasanya minum sisa kopi bapak. Aneh, pahit, getir, manis jadi satu. Mataku mengerjap setiap kali habis minum kopi dan ibu pun tertawa apalagi melihat bekas kopi di atas bibir jadi mirip seperti kumis. Karena setiap hari minum kopi bekas bapak, ibu pun mencoba membuatkan di gelas sendiri, tidak setiap hari sih hanya saat saya memintanya.

Lama-lama saya suka namun ibu tidak mengijinkannya untuk meminumnya setiap hari. Saya pun tak kehilangan akal, mencoba menikmati kopi dengan cara yang lain yaitu mencampur bubuk kopi dan gula. Tidak perlu ditambah air dan saya pun memakannya sedikit demi sedikit. Saya pun tidak membuat banyak karena sedikit saja sudah cukup. Kebetulan kopi bubuk yang ada di rumah adalah buatan sendiri, ibu menyangrai biji kopi sendiri, dicampur dengan sedikit irisan kelapa dan beras biar gurih kemudian menumbuk lalu mengayak untuk mendapatkan bubuk kopi yang lembut.  Itulah rahasia nikmatnya kopi ibu selain cinta kasih yang tertabur di dalamnya.

Kebiasaan minum kopi ini sempat terhenti saat saya ikut nenek di desa. Kopi bubuk buatan nenek jauh berbeda dengan buatan ibu, lebih kasar. Jadi setiap diseduh butiran-butiran kasarnya mengambang dan menempel di sisi gelas. Begitu juga saat meminumnya aka nada butiran yang menempel di gigi, geli rasanya. Belum lagi kebiasaan di desa, menyeduh kopi dengan gula mera padahal biasanya ibu menggunakan gula putih. Perbedaan ini membuat rasa kopi jadi berbeda.

Menjelang pensiun bapak meminta mutasi ke Tulungagung dan disetujui oleh perusahaan. Akhirnya semua kembali ke desa dan yeaayyy … betapa senangnya saya, berkumpul lagi dengan bapak-ibu dan menikmati kopi buatan ibu. Hmmm … kenikmatan itu saya dapatkan kembali. Tak jarang saya, ibu dan adik lelaki saya mencoba minuman kopi dengan versi lain mulai mencampurnya dengan susu, creamer dan rasa yang lain. Meninumnya saat masih panas, hangat hingga dingin pun kami coba sampai kami menemukan cara paling favorit yang selalu kami nikmati bersama. Ya! Kopi asli adalah kopi kesukaan keluarga kami dan sore hari adalah waktu yang pas untuk kami sekeluarga untuk ngopi bareng, karena kalau pagi saya dan adik harus masuk sekolah lebih pagi karena sekolah kami agak jauh, sementara jam 7 kurang seperempat pelajaran sudah mulai. Sedangkan bapak berangkat ke kantor sekitar jam setengah 7 pagi.

Hingga sekarang aktivitas minum kopi bukan sekedar rutinitas tapi lebih dari itu. Banyak kenangan saat menyesapnya dari cangkir maupun gelas bening. Kenangan saat kami masih bersama hingga Tuhan memanggil ibu di hari natal dan bapak yang sekarang belajar menyangrai biji kopi sendiri demi mendapatkan rasa kopi seperti yang ibu buat.

Kami yang kini sudah dewasa dan tak lagi tinggal serumah dengan bapak, berusaha setiap ada waktu libur menjenguknya dan ngopi bersama. Berbagi banyak cerita selama kami tak bersama. Meski ada air mata saat bertemu tapi kami selalu bisa mengakhirnya dengan senyum dan doa untuk ibu di surga. 

You Might Also Like

2 komentar

Pengikut