Mengikuti Tren atau Jadi Follower?

03.30

Mengikuti tren atau terbawa arus, dua kata ini bak pinang dibelah dua. Meski kalau kita mau jeli dua-duanya memiliki makna yang berbeda jauh tapi dalam prakteknya seperti sama. Sama-sama terkesan tidak punya pendirian.
Mengikuti tren memang bukan sebuah keharusan, namun bagi sebagian orang, ini penting untuk mempermudah pergaulan. Bayangkan bila di lingkungan kita sedang tren food combining, dengan alasan demi kesehatan kita pun menjalaninya. Padahal keuntungannya lebih dari sekedar sehat, kita juga lebih mudah berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar karena mengerjakan hal yang sama dan memiliki tujuan yang sama pula. Ini salah satu contoh mengikuti tren yang baik.


Adakah tren yang salah? Ada. Trennya mungkin tidak salah, tapi cara kita yang salah jadilah trennya yang disalahkan. Contoh, aktif di social media. Hari gini siapa sih yang gak punya akun sosmed, saya aja punya facebook, twitter, pinteresrt, instagram, path tapi sering lupa password, hahaha!!! Tapi jangan kuatir saya cukup aktif di 3 sosmed facebook, twitter dan instagram. Lalu apakah bila saya aktif di sosmed salah? Tentu tidak, menjadi salah bila gegara sibuk dengan sosmed jadi lupa kerjaan, banyak deadline yang terlewat dan kerjaan nggak beres. Ini salah.
Seperti kita tahu di sosmed kita bisa berbagi segala informasi baik sekedar cerita ataupun kompetisi. Sekarang lagi rame-ramenya lomba atau kompetisi yang diumumkan via sosmed. Kenapa, karena social media adalah tempat berbagi yang gratis, tis, tis!!!
Pengen ikut semua karena hadiahnya menggiurkan, rasanya sih begitu. Tapi ingat setiap kompetisi pasti ada syarat dan ketentuan berlaku. Ada lomba selfie ikutan, lomba foto ikut, lomba ngeblog ikut juga. Saking antusiasnya semua kita ikuti tapi kita lupa perhatikan syarat-syaratnya, ini akan membuat usaha kita sia-sia.
Saya pribadi sih lebih suka mengikuti kompetisi yang sudah saya tekuni, karena ini membuat saya lebih percaya diri dan modal sudah ada. Tinggal menyesuaikan tema yang diminta panitia. Kalaupun tidak menang tidak merasa sia-sia karena sebelumnya tanpa lomba pun sudah menerjuninya. Contoh, nge-blog. Sudah lama nulis di blog bukan berarti semua lomba blog saya daftar, hanya yang sesuai dengan passion aja, selain bisa lebih mendalami, saat mengerjakannya pun hati senang. Terbawa arus, tidak. Sekedar mengikuti tren, nggak juga karena kita tetap menentukan sebuah standart di setiap karya kita. Kalau menang syukur, nggak menang nggak papa …. 
Lalu seperti apa mengikuti tren yang salah?
Setiap orang memiliki bakat masing-masing yang bisa jadi bawaan lahir tapi bisa juga yang karena dilatih. Suatu ketika kita melihat seorang teman yang sepertinya enjoy banget dengan dunia tulis-menulis, menang lomba sudah langganan, banyak permintaan review, tiap kirim artikel selalu dimuat. Huwaaahhh …. Mupeng deng deng …. Karena pengen seperti dia lantas kitapun ikutan. Meski selama ini belum pernah melakukannya tapi pede aja. Jempol empat untuk keberaniannya.
Tapi ingat guys …. Segala sesuatu butuh proses dan itu harus dilalui. Hidup ini bukan sepanjang sinetron atau FTV yang hanya tayang dua jam sudah bikin cerita klimaks dan sang tokoh sukses. Tidak begitu, ada banyak hal yang harus kita lalui, sandungan, jungkir balik itu biasa. Kalau mau bisa kan harus berlatih.
Jadi ada baiknya kalau kamu ngiri, envy sama keberhasilan temenmu gak harus serta-merta mecontoh apa yang bikin dia sukses, ada baiknya sih belajar sama dia atau yang lain yang dianggap mampu. Meminta bantuan untuk diajarin itu tidak akan membuat kita lebih rendah dari dia kok, justru akan membuat orang jadi lebih respect karena kita mau maju. Tapi kalau kita mengikuti terus apa yang dikerjakannya itu bisa bikin dia risi dan malah menjauhi kita.
Buat saya boleh aja sih kita ikuti tren yang ada atau mengekor apa yang dilakukan orang lain, asal tugas utama kita beres. Karena hal-hal seperti ini sebenarnya bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang, jadi semua waktu kita terpakai dengan baik.
Gampang-gampang susah ya berteman, pas gampang, mulus banget jalannya. Pas susah, boro-boro dapet teman yang ada malah nglirik kita aja ogah.



You Might Also Like

4 komentar

  1. informasi yang menarik
    kubal bang-gas.blogspot.com

    BalasHapus
  2. Setuju mba.. kyk dlm soal blog, aku jg ga seneng kalo trlalu ikut2an... lomba blog yg aku ikutin aja aku pilih..kalo g ada hubungannya ama traveling dan kuliner, biasanya ga bakal aku ikutin :D.. Percuma jg, ga sreg pas nulis ;p Media sosial apalagi... yg aktif skr ini cuma FB ama twitter..pdhl temen2 pada main di path, IG... duhhh, aku punya sih, tp males aktif di sana ;p.. emg ga sreg aja ... mw mosting foto2 mah simpen di flickr lbh aman :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, lbh baik mmg begitu kita fokus ke apa yg menjadi kesenangan kita, spy saat mengerjakannya tidak membebani. Tidak mengerjakannya bukan berarti ketinggalan jaman kan?

      Hapus

Pengikut