MUDAHNYA MENJADI BAHAGIA

20.57

Manusia akrab sekali dengan sakit hati, dendam dan kedengkian. Ketika apa yang diinginkan tak terpenuhi langsung kecewa. Saat orang lain memiliki yang lebih baik lantas iri. Bila kehilangan sesuatu, sedih berkepanjangan.

Kenapa rasa-rasa seperti itu begitu mudahnya hinggap, tidak bisakah ditolak? Atau setidaknya bisakah kita berdamai dengan semua itu? Jawabnya tentu saja bisa, tergantung kitanya mau atau nggak.

Pernah bertemu dengan orang yang kondisinya di bawah kita tapi dia terlihat lebih bahagia dari kita? Ya, saya pernah dan bahkan sampai sekarang masih berteman dengannya. Kenapa dia bisa seperti itu? Bersyukur dan berbagi itu yang mereka lakukan.

Saya juga pernah membaca di sosmed, seseorang yang menurutku sudah baik, gak pelit ilmu, mau membantu sesamanya tapi kenapa dia sering terjebak saat sebuah masalah menghampirinya. Celakanya yang seperti ini sering dipublish di sosmed meski tidak menyebutkan nama oknumnya. Berkecukupan bukan jaminan untuk bahagia.

Bertemu dengan orang yang biasa-biasa saja, tidak menolong yang lain tapi tidak menyakiti, hanya melakukan sesuatu untuk dirinya saja tanpa merugikan orang lain. Tidak mudah menjadi orang seperti ini, harus kuat dan siap menyelesaikannya semua sendiri.
Hidup itu sebab-akibat, akan muncul reaksi bila kita beraksi. Jadi apapun yang kita terima sebenarnya adalah pantulan dari apa yang sudah kita lakukan.

Saat kita bersyukur, hati kita lebih tenang karena sebenarnya bila kita mau menghitung nikmat dan mensyukurinya maka kita takkan mampu menghitung berapa banyak nikmat yang kita peroleh dan sepanjang hari kita takkan berhenti bersyukur. Hati yang penuh syukur juga akan lebih sabar karena kesedihan yang menimpa kita tidak lebih banyak dari nikmat yang kita rasakan.

Tuhan akan menambah nikmat pada hambanya yang rajin bersyukur. Tuhan sangat baik, Dia tak pernah menuntut kita berlebihan tapi akan selalu menambah nikmatNya ketika kita bersyukur.

Berbagi akan membuat kita merasa lebih kaya. Memiliki harta yang banyak seringkali membuat kita was-was bila tiba-tiba jumlahnya berkurang, membuat tidur tak nyenyak karena takut dicuri, masih merasa kurang saat melihat orang lain memiliki harta lebih banyak. Padahal harta kita sebenarnya adalah harta yang kita sedekahkan, harta yang bisa menolong kita di hari akhir nanti, harta yang meringankan dosa kita di hari pembalasan kelak.

Berbagi atau bersedekah membuat kita menjadi lebih peka dengan penderitaan orang lain, membantu sesama akan membuat kita menyadari betapa banyak nikmat yang telah kita terima. Itu sebabnya bahagia selalu bersama mereka yang rajin bersedekah dan  bersyukur. Kalau tidak percaya, coba deh lakukan secara rutin, jangan salahkan aku bila kamu ketagihan.

Kesedihan dan kekecewaan bisa menjadi magnet untuk menarik datangnya sedih dan kecewa akan hal-hal lain. Kesedihan pertama akan membuat kita merasa ada yang masih kurang dalam hidup kita, setelah itu kitapun akan disibukkan untuk mencari kekurangan-kekurangan lainnya. Semakin banyak kekuarangan yang ditemukan, semakin sedihlah kita.

Begitu juga dengan kekecewaan, manakala dia datang kita lantas mengumpat, mengumbar serapah bahkan bisa menjadi sebuah dendam. Saat itulah kita kesulitan melihat kebaikan, apa yang dilakukannya semua salah dan kita semakin kecewa. Padahal pada saat dia datang bisa saja kita mencoba berdamai dengannya, menerima kekecewaan itu sebagai sebuah pelajaran, menjadikannya sebagai evaluasi agar kita bisa lebih baik, tentu saja harus dengan usaha yang bisa jadi mudah atau sangat melelahkan. Setidaknya pelajaran itu bisa menjadi pengingat atau pendorong kita untuk lebih baik. Jangan sekali-kali menyimpan kecewa karena dia akan mengundang kecewa-kecewa yang lain dan kita akan muram sepanjang waktu.

Bermain aman dengan tidak ikut campur. Tidak menolong dan tidak menyakiti. Bisa saja ini membuat hidup tetap berjalan mulus, tapi percayalah ini akan terasa hambar. Kita tidak memberi manfaat pada orang lain, takkan ada senyum tulus saat berpapasan, tak ada ucapan terima kasih yang membuat kita merasa telah berarti. Takkan ada orang yang mau mendekatimu karena sungkan kamu tidak pernah merepotkannya dan kamu pun akan lebih sungkan untuk mengatakan minta tolong karena merasa tak pernah menolong mereka.

Mengalirlah seperti air tapi bukan terbawa arus. Kita tetap bisa menjadi anggun meski di tempat becek, tetap saja menawan meski di area lawan dan tetap berharga walau di antara mereka yang bergelimang harta. Memantaskan dan mematutkn diri memang tidak semudah membalik telapak tangan, tapi ini bisa dilakukan. Life is process, during processing we will find a miracle. They will comes to the other whose believe it.



You Might Also Like

5 komentar

  1. Mengalirlah seperti air yang memiliki tujuan, mengalir ke laut :)

    BalasHapus
  2. Mengalirlah seperti air yang memiliki tujuan, mengalir ke laut :)

    BalasHapus
  3. udah lama kayaknya enggak main ke sini. btw nice quote ---> Mengalirlah seperti air tapi bukan terbawa arus.

    BalasHapus
  4. kemana aja gak pernah main, tempatmu belum ditumbuhi alang-alang kan? *babat rumput di rumah Yandhi*

    BalasHapus

Pengikut