Ujung Sebuah Penantian

01.37


Tak semua yang diinginkan manusia harus dipenuhi oleh Tuhan meski hakikinya Dia adalah Sang Maha Pemberi. Yeah, berteman tak harus selalu bertemu, mencinta tak harus selalu bersama. Sebait doa yang selalu terpanjat setiap mengingatmu, meski belum cukup mewakili semua tapi hanya itu yang bisa dilakukan saat ini.
“Morning Ebi … I love you”
Sebuah pesan masuk ke kotak messenger, pesan rutin yang selalu datang setiap pagi menjelang fajar. Pesan yang selalu kutunggu.
“Morning Epi, love you too!!!”
Balasan yang selalu lebih emosional, entah karena saking senangnya atau tak ingin kehilangan.
Lalu keduanya pun memulai percakapan pagi buta di telpon dan sesekali terdengar tawa renyah, tidak terlalu lama tapi cukup untuk membuat keduanya semakin dekat. Beruntungnya mereka tinggal di rumah sendiri yang ditemani dengan kucing masing-masing jadi gak perlu takut berisikin yang lain.
O iya, di sela-sela telponan itu pasti ada suara ngeongan yang bersautan dari sini dan seberang sana. Hahah, anak kaki empat ini seolah ingin nimbrung apa yang dilakuin emak-bapaknya. Begitulah dunia mereka. Ebi & Epi.
Menurutmu mereka sering ketemu? Hmm … gak juga tuh, Epi di Jakarta, sementara Ebi terselip di Jawa Timur. Keduanya terikat jam kantor yang sangat membatasi jadi agak susah kalau mau nge-date langsung.
“Epi, makan apa siang ini? *cuma mau tanya itu ajah*
Sending message …. Delivered …. Bengong, ngliatin hape. 10 menit berlalu tak ada balasan. Makan siang sambil manyun. Mulai mikir macam-macam. Balik ke kantor, lupain itu sms. Bisa lupa? Nggak lah, tapi abaikan, banyak deadline.
“Halo Ebi … hehe maaf baru balas tadi masih meeting. Siang ini makannya nasi padang, menu meeting.”
Balasan yang singkat dan lengkap meski terlambat. Baca sebentar, lanjut kerja.
Jam 5 sore, bergegas pulang. Ebi selalu pulang on time. No lembur, prinsipnya. Lebih suka di rumah dan menghabiskan waktu bersama anak-anak kaki empatnya.
Bunyi hape berdering. Ada nama Epi di layar. Jam setengah 8 malam. Buru-buru disambar.
“Halo Pi? Masih di kantor?”
“Baru nyampe rumah, hari ini gak lembur jadi bisa pulang cepet. Lagi ngapain?”
“Lagi main sama anak-anak.” Kedengeran suara kucing ngeong.
“Enak ya udah santai di rumah, apalagi anak-anakmu nggemesin gitu. Jadi pengen ….”
“Pengen apa?”
“Hmm, apa ya? Ada deh …”
Mereka pun terkekeh renyah dan tiba-tiba hening, Ebi menggigit bibirnya seperti menahan tangis yang hampir tumpah. Sementara itu di ujung sana suara Epi terbata, seolah berat yang ingin disampaikan dan semua berakhir dalam diam.
Sehari, seminggu, dua minggu rutinitas pagi itu tak ada. Lenyap bagai ditelan bumi. Hidup berjalan seolah mereka tak saling kenal. Bulan pun berganti, hanya sedikit komen di sosmed. Sekedar basa-basi pertanda mereka masih berteman.
“Ebi, besok pulang kantor jam berapa?”
Sms masuk dari Epi.
“Jam 12, kenapa?”
“Aku tunggu di bandara ya, pesawatku landing jam 12.18.”
“Kamu ke Surabaya? Dalam rangka apa?”
“Iya aku ke Surabaya besok, kamu akan tahu kenapa aku ke sana."
“Oh, oke. Nyampe bandara mungkin jam satu siang, semoga gak macet.”
“Hati-hati ya, see you.”
Antara senang, bingung dan bertanya-tanya. Semua campur aduk memenuhi kepalanya. Sekian bulan setelah keributan malam itu, kini tiba-tiba Epi mau ke Surabaya? Untuk apa dia juga gak mau bilang.
Waktu berjalan lamban, ingin segera jam 12 lalu cusss ke bandara. Ebi memacu kendaraannya lebih cepat, ingin segera sampai. Tak sulit baginya menemukan Epi di antara kerumunan manusia di bandara yang padat ini.
“Hai, selamat datang. Maaf lama menunggu” suara Ebi terengah-engah.
“Hai Ebi, nggak papa, makasih ya sudah mau datang. Minum dulu gih, Surabaya panas betul nih” Epi mengangsurkan sebotol minuman yang telah dibukakan tutupnya.
“Terima kasih” meneguk perlahan. “Berapa lama di sini?” lanjutnya.
“Tergantung.”
“Tergantung apa?” mengernyit bingung.
“Inget lagu yang waktu itu kukirim?”
Spontan, buka hape cari filenya. Jujur aja agak sebel dengan Lagu Galau-nya Al Ghazali ini, habis isinya ragu-ragu melulu padahal yang dibutuhkan cewek kan kepastian. Kalau cowoknya ragu gimana si cewek bisa yakin.
“Inget …. Kenapa memang.”

Cinta itu buta dan tuli, tak melihat tak mendengar
Namun datangnya dari hati, tidak bisa dipungkiri
Itu benar, memang benar
Cinta itu ruang dan waktu, tak sekejap harus mau
Cinta butuh ruang yang sepi untuk mengutarakan hati
Kamu, aku bincang-bincang
Mau bilang cinta tapi takut salah
Bilang tidak ya, bilang tidak ya
Mau bilang sayang tapi bukan pacar
Tembak tidak ya, tembak tidak ya
Tembak tidak ya, tembak tidak ya …
Tulusnya cinta yang aku berikan 
Tulus dari hatiku ini yang paling dalam 
Semoga kau mengerti, semoga kau mengerti

Senyum merekah di bibir keduanya, tanpa kata, tanpa suara. Hening meski hiruk-pikuk di sekitarnya. Dengan sekali kedipan mata Epi, keduanya beranjak menuju tempat parkir.
“Aku mau jadi pacarmu” bisik Ebi sambil berjinjit.
“Would you, marry me?” bisik Epi.
Tak ada jawaban, tapi senyum keduanya sudah cukup memberi tanda dan semesta pun merestui.



You Might Also Like

0 komentar

Pengikut