PROLOG: Rindu Di Tengah Penat

23.44


Lamanya waktu bersama bukan jaminan seseorang bisa jatuh cinta, karena cinta itu ada saat pertama bertemu dan terpupuk dengan kebersamaan. I believe love on the first sight.  #Nash
Menarik saja tidak cukup, harus ada kenyamanan dan passion dalam menjalani hubungan. #Vic
Dipertemukan dalam sebuah proyek kantor tempat mereka bekerja yang meskipun kedua perusahaan akhirnya membatalkan kerjasama namun mereka tetap berteman. Bermula dengan lunch bareng kemudian dilanjut dengan nonton dan dinner. Kebetulan kos mereka berdekatan.
Perdebatan dan beda pendapat mewarnai hari mereka hingga tak jarang saling diam dan tak menyapa beberapa hari. Namun saling merawat bila ada yang sakit. Baik Nash maupun Vic tak pernah keberatan untuk mengantarkan makanan atau sekedar mengingatkan minum obat bila salah satu dari mereka sedang kurang sehat.
Sama-sama suka kuliner dan pergi ke tempat-tempat unik hanya untuk sebuah menu yang tak biasa. Mungkin menunya sudah umum tapi dinikmati dengan cara yang berbeda hingga menemukan taste sendiri. Bisa masak? Nggak juga, keduanya tak bisa masak kecuali makanan instan yang sudah ada petunjuk memasaknya. Tapi anehnya, keduanya jeli banget bila mencoba makanan baru, yang jika ada bumbu yang kurang atau kebanyakan sedikit saja bisa dikomentarin, meski ujung-ujungnya habis juga.
Lelah dengan hubungan yang berjalan tak tentu arah, Nashwa memilih mengurangi waktu bersama dan menyibukkan dengan kegiatan lama yang diperbaruinya, merawat kucing kurang beruntung yang ditemukannya kebanyakan di jalan atau pasar.
Victor pun juga mengubah haluannya, bergabung dengan komunitas produktif untuk membuat event-event sosial kemanusiaan. Dan keduanya menjadi sibuk hanya berkomunikasi by phone dan mengabarkan di sosmed. Hingga suatu ketika saat keduanya di titik jenuh dan mereka pun bertemu. Melepas penat dengan cerita apa saja yang terjadi selama mereka tak bersama. Cukup banyak dan banyak yang lucu. Seperti biasa waktu terasa berlari cepat saat bersama sementara rindu tak kunjung reda.
Rindu yang menjajah dan tak pernah mundur hingga mereka pun menyerah.
“Kangen juga ngobrol ge-je seperti ini dan ternyata ini menyenangkan.”
“Hu um dan waktu selalu berlalu cepat saat kita bersama.”
“Nash dulu kita sering bareng-bareng, sekarang udah pada sibuk sendiri. Aku senang, kamu banyak kegiatan dan menolong binatang yang terlantar. Aku belum bisa, tapi one day semoga bisa.”
“Hey! Kamu sekarang jauh lebih keren loh, bukan sekedar nyinyirin makanan tapi akhirnya habis juga tapi sudah banyak menggerakkan orang untuk lebih peduli sesama. I proud to you.”
“Dasar! Yang begituan diingat terus. Eh, tapi asli deh udah berkurang banget loh kebiasaan itu.”
“Iya yang dimakan enak terus, jadi nggak complain.”
“Sayang, makannya nggak sama kamu.”
“Mau sih diajak, sayang kamunya sibuk terus.”
“Minggu lusa ya, aku lagi kosong.”
“Boleh, sekarang aku pulang ya. Waktunya bersih-bersih rumah.”
“Okay! Cuma mau bilang, kamu cantik hari ini” yang terakhir terucap lirih setengah berbisik.
“Thank you, kamu tetep yang paling keren.”
Merekapun berpisah.


You Might Also Like

0 komentar

Pengikut