NGE-CHARGE BATTERAY SAMBIL NONTON

01.50


Nge-charge batteray yuk! Emang boleh? Pastinya nggak kalau di dalam bioskop, belum lagi kamu bakal susah nemuin colokannya. Batteray disini maksudnya adalah batteray manusianya. Hahaha, otak bisa buntu bila dipake mikir terus, badan juga lelah kalau kerja tanpa istirahat. 

Banyak cara yang bisa dilakukan untuk merefresh pikiran setelah penat bekerja lima atau enam hari. Salah satunya nontn film, saya termasuk yang jarang nonton hanya sesekali saja? Kenapa? Ya, saya termasuk pemilih, tidak semua film baru ditonton. Menonton hanya film-film yang disukai dan sesuai dengan situasi hati #halah. Nggak peduli itu film baru atau lama asal pas, hayuk ajah.

Setiap film baik yang tayang memiliki target auidience sendiri, ada film yang sengaja dibuat untuk anak-anak, remaja, dewasa dan keluarga. Genrenya pun beragam, mulai komedi, drama, romantic, horror da action. Saya sendiri lebih suka nonton drama dan romantic karena kedua genre ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, jadi kalau mendapati case yang sama, seolah-olah kitalah pemain film itu. Yeach, terkadang hidup ini memang drama bangeud ciiiinnn …. Hahah!

Meski begitu tidak semua fim bergenre drama atau romantic saya tonton loh. Tetep aja ada sensornya, walaupun semua film yang tayang berarti sudah lolos Lembaga Sensor Indonesia. Memberlakukan BUDAYA SENSOR MANDIRI wajib bagi saya. Apa itu? Buat saya ini adalah salah satu cara menyeleksi film, menarik atau tidak untuk ditonton. Bisa merefresh pikiran atau malah bikin galau, dan saya lebih suka kalau usai nonton jadi lebih semangat seperti batteray yang baru di-charge.

Roadblog Surabaya foto by Excite Indonesia
Minggu lalu bersama teman blogger Surabaya, saya nonton film 3 Srikandi di Marvel City. Awalnya agak ragu mau berangkat karena film ini bercerita tentang perjuangan atlit panahan di Olimpiade Seoul – Korea tahun 1988. Jadilah sebelum berangkat nonton googling synopsis film ini, mulai dari jalan cerita, siapa pemainnya sampai siapa script writernya. Bunga Citra Lestari, Reza Rahardia, Tara Basro dan Chelsea Islan deretan nama-nama yang bisa dijadikan jaminan kesuksesan sebuah film. 3 Srikandi sendiri ditulis oleh Swastika Nohara yang notabenenya saya mengenalnya sebagai travel blogger dan kami sempat bertemu dalam sebuah acara. Makin penasaran kan jadinya, dengan keputusan bulat akhirnya nonton juga 3 Srikandi.

Nyesel? Sama sekali nggak, film ini bukan hanya membawa kita ke kenangan masa lalu dimana taring Indonesia masih cukup tajam di kancah olahraga internasional. Selama nonton pun ada perasaan menggebu dan seolah saya lah satu dari tiga Srikandi itu. Semangat dan sportivitas mengalir deras ke tubuh saya. Tiba-tiba sayapun menjadi sangat bangga terlahir sebagai warga Indonesia. Keluar bioskop masih dengan rasa penuh haru, penat pun hilang dan siap menyambut hari Senin lagi.
Ada beberapa hal yang jadi parameter untuk sebuah film itu layak saya tonton atau tidak:
  1. Genre, ini hubungannya dengan selera jadi tergantung individunya. Kalau saya kebih suka drama atau romance, jadi kalau ada film horror pastinya nggak bakal nonton.
  2. Pemain. Aktor dan aktris ini bisa menjadi magnet tersendiri bagi penonton. Tidak jarang fans, tak peduli apapun filmnya asal doi yang main pasti nonton.
  3. Cerita, ini  bisa dilihat dari synopsis. Membaca synopsis terlebih dulu sebelum menontonnya dari situ kita akan punya gambaran cerita dari filmnya.
  4. Nonton sama siapa, penting nggak penting ini bisa banget jadi parameter film apa yang bakal ditonton. Nggak mungkin kan nonton sama anak TK terus nontonnya AADC gitu, atau nonton Conjuring sama temen yang bener-bener penakut. Bisa pingsan dia.
  5. Waktu. Bila semua kriteria sudah terpenuhi saatnya menentukan kapan dan dimana akan nonton. 
Paling seneng kalau habis nonton begitu keluar bioskop, bisa senyum sumringah dan ada semangat baru dalam diri, rasanya bener-bener puas. Bukan sekedar refreshing tapi juga ngisi batteray. 

You Might Also Like

1 komentar

Pengikut