You're In My Frame

20.44

“Terkadang aku lebih memilih diam agar kamu tidak tahu kalau aku sedang mengkhawatirkanmu, karena bila kamu tahu aku khawatir, kamu pasti akan lebih sibuk menenangkanku. Lebih baik membawanya dalam doa dan kita sama-sama tenang menjalaninya.”


Banyak hal yang kita bagi tapi ada kalanya kita ingin menyimpannya sendiri, karena kita lah yang paling mengerti siapa kita.

”Cataflam itu seperti ini?” --- kirim foto obatnya --- 
“Iya Uda, diminum tiap 8 jam sekali, kalau ngilunya sudah hilang stop minumnya.”
“Oke makasih yo …” --- emot smile --- 
Sedikit yang kita sampaikan tapi saling membantu. 

“Mer-Mer meninggal ketabrak tadi siang?”
“Kok bisa?”
“Iya, Mer-Mer tadi pagi ngambek karena nggak dibolehin keluar. Di dalam dia rewel terus akhirnya aku bolehin keluar. Tahu-tahu tetangga depan ngabari dia ketabrak.”
“Aduh, kasihan dia. Terus yang nabrak?”
“Pergi gitu aja.”
“Semoga yang nabrak celaka. Kamu yang sabar ya, jangan sedih. Kasihan Mer-Mer.”
“Iya, apalagi Mer-Mer sebenarnya punya kekurangan.”
“Apa itu?”
“Mer-Mer sudah tua, 9 th. Matanya sudah katarak, dia juga ada masalah dengan ginjalnya, jantungya juga nggak sebagus yang lain. Semua harus extra dijaga.”
“Oh, staminanya sudah berkurang ya?”
“Iya, ibarat manusia usia Mer-Mer sudah 62 th, kakek-kakek. Makanan, vitamin dan aktivitasnya harus diawasi, tidak boleh berlebihan atau kurang.”
“Astaga, kamu merawatnya sampai seperti itu ya? Aku salut sama kamu, seharian kerja, ada 10 ekor kucing di rumah, masih ada pula yang seperti Mer-Mer. Pasti kamu lelah tapi kamu bisa membuat mereka tetep nyaman denganmu.”
“Iya, aku sayang banget sama Mer-Mer karena dia tak pernah ingkar janji. Tapi seperti kucing yang lain kadang dia juga ingin bermain-main meskipun usia sudah senja.”
“Iya Mer-Mer tahu kamu sayang banget sama dia, dan dia tahu kamu selalu menyiapkan semua keperluannya. Percayalah, Mer-Mer tak bermaksud meninggalkanmu tapi dia juga ingin kamu ada waktu untuk dirimu sendiri. Dengan dia kembali pada Tuhan, Mer-Mer ingin memberikan waktu istirahat untukmu lebih banyak, Mer-Mer sayang kamu.”
Tak banyak yang kita bincangkan tapi melegakan. Membuatku mudah untuk ikhlas.

“Selamat berpuasa ya, mohon maaf lahir batin. Kamu puasa kan?”
“Sama-sama, iya aku puasa.”
“Jangan lupa sahur dan minum vitamin biar nggak lemes siangnya.”
Sederhana tapi menjagaku.

“Mau buka apa hari ini?”
“Hmm … aku masak sendiri sih.”
“Bagus dong, masak apa? Aku juga masak sendiri kok.”
“Bikin tumis jantung pisang sama teri.”
“Wah, enak tuh. Kapan-kapan ajarin ya … Aku masak sop daging, cari yang gampang aja. Cuma tadi sempat lupa bumbunya apa terus telpon ibu di Bukittinggi.”
--- Kita pun tertawa bersama ---
Sepele tapi membuatku bangga dengan kemampuan memasakku.

“Kemarin ada demo di deket kantormu, Uda nggak papa kan?”
“Alhamdulillah nggak papa, kebetulan aku pas cuti jadi aman-aman saja dengan anak-anak di rumah.”
“Surabaya juga sering ada demo kan, kamu hati-hati ya….”
Singkat tapi menemtramkan.

“Aku ingin bisa menulis fiksi sepertimu.”
“Ah, kamu pasti bisa karena kamu sudah biasa menulis artikel.”
“Fiksi itu lebih sulit Uda, kita harus bisa bermain diksi. Beda dengan non fiksi yang membutuhkan data. Data bisa dicari tapi diksi harus dilatih.”
“Iya, diksi memang harus dilatih, banyak membaca dan mengungkapan apa yang kau pikirkan lewat tulisan. Bikin coretan kecil aja, jangan cuma dibayangin ntar malah melamun.”
“Aiiihh … Kalau bikin fiksi kan ada ngelamunnya juga.”
“Kamu lagi ngelamun apa?”
“Heh, apa ya? Ada sih …”
“Apa? Cerita dong.”
“Cuma lamunan doang …. Nggak usah diceritain. Kalau cita-cita boleh diceritain biar nanti ada yang ngingetin kalau kita mulai melenceng.”
Ingin tahu, tapi tidak memaksa. Kamu tahu sedekat apapun bukan berarti tanpa rahasia.

“Aih seneng ya udah bisa ketemu ibunya Ntut ….”
“Iya dong, calon mama mertua. Hahaha ….”
“Aku kan juga calon menantunya, calonnya Kwen.”
“Jadi kita sama-sama menantu dong.”
“Iya …. Tapi masalahnya itu Ntut mau nggak sama kamu, atau jangan-jangan Kwen juga ogah sama aku?”
“Asem … hahahaha.”
Becandaan yang kadang garing tapi tetap saja bisa membuat kita tertawa tanpa jaim.



Iya, kami sama-sama suka binatang dan memelihara kucing. Hatinya sangat lembut, dia memelihara kucing tanpa memilih, justru kucing lah yang memilihnya. Binatang lucu ini datang ke rumahnya dan dia menyediakan makanan. 

Kucing-kucing ini pun selalu datang saat jam makan pagi hari dan sore saat dia pulang kantor untuk makan malam. Hanya ada beberapa ekor yang kadang tidur di dalam rumah, si Mueza, Niki, Phoebe dan Kwen. 

Mereka pasti kehilangan, saat kau pergi seperti aku dan semua orang yang menyayangimu. 



You Might Also Like

8 komentar

  1. Terkadang, kita lupa bahwa yang sederhana itu tetap memiliki makna. Tinggal diliat dari sudut pandang mana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener, apalagi saat semua tinggal kenangan rasanya jd lebih berharga.

      Hapus
  2. Ahhh.... suka sama cara mendeskripsikan hatinya
    Sentuhan2 sederhana memang terasa sepele tapi langsung keba dihati
    Suka deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, kami memang tidak banyak waktu bersama, sesuatu yg simple pun akan jd sangat berharga.

      Hapus
  3. Ahhh kata2 yang terangkai indaah

    BalasHapus
  4. So many reflections in one blogpost. Sukaaaa.

    BalasHapus
  5. saling mengerti dak memahami ya

    BalasHapus

Pengikut