KARMA

20.42



Pernah nggak kamu tiba-tiba suka banget dengan seseorang, padahal sebenarnya yang lebih keren banyak di sekelilingmu. Celakanya lagi kamu baru ketemu sekali dan entah kapan ketemu lagi sama dia. Njiiirrr …. Perih banget kan? Ngebayangin aja ogah gimana ngejalaninnya ya?

Eh, swear yang beginian itu ada dan apesnya daku pernah jugaaaaa …. LOL ---sungsepin muka ke bantal---. Emang sih ada hal-hal yang kejadiannya itu unpredictable dan kitanya nggak prepare banget. Bisa bayangin kan ketemu sekali, cuma tahu nama, kontak nggak, lalu merasa suka. Mending kalau sama-sama suka kalau cuma salah satu aja bagaimana?

Tapi serius, Tuhan adalah sutradara paling keren yang alur ceritanya bisa bikin kamu tiba-tiba spot jantung, bikin panik nggak karuan karena nggak tahu musti bagaimana menyelesaikannya. Seiring berjalannnya waktu karena sering dipikirin akhirnya membawa kita untuk membuka jalan itu sendiri. Iya, aku termasuk yang menyakininya.

Bertemu sekali dan hanya sebentar, komunikasi pun cuma sekali. tapi dari yang sekali-sekali ini akhirnya menjadi berkali-kali. Sebuah perjalanan tak sengaja yang membuat aku dan kamu menjadi berkali-kali bertemu dan kontak terus-menerus, padahal sebelumnya mungkin hanya aku yang memikirkanmu.

Pertemuan kedua di kereta, sepulang dari acara keluarga di Jakarta yang akhirnya membuat kita duduk sebangku itu telah berhasil membawa kita hingga saat ini.

“Hai mbak, yang kucingnya juara di area Surabaya itu kan?”
“Bukan kucingku sih tapi tim kucingku.” – mempersilahkan duduk di sebelah –
“Oh iya, itu maksudku. Mau kemana?”
“Mau balik ke Surabaya, mas mau kemana?”
“Ke Madiun, mudik. Lagi kangen ibu.”
Aku terdiam, dia pun menata duduknya setelah menaruh tas di atas. Ada rindu yang menoreh dalam saat dia menyebut kata “ibu” dan aku dibuat tak berdaya hingga tak tahu harus berkata apa. Kami terdiam agak lama hingga akhirnya dia mulai mengambil suara.
“Kucing-kucing di rumah kalau ditinggal begini sama siapa mbak?”
“Nggak ada siapa-siapa, hanya ada teman yang datang setiap pagi untuk membersihkan rumah dan kotoran mereka sekaligus ngasi makan.”
“Memangnya ditinggal berapa hari?”
“Tiga hari, sebenarnya bisa aja disiapin pakan yang cukup selama ditinggal, tapi kasian kalau selama itu mereka tidak ketemu orang padahal setiap hari kan ketemu aku.”
“Iya, ya. Tapi mereka kenal kan dengan temennya mbak?”
“Iya kenal, dan memang harus cari yang kenal biar mereka juga nggak takut.”

Waktu pun berlalu, perbincangan pembuka yang membawa pada obrolan-obrolan berikutnya. Mulai hal kecil hingga hal yang membuat dahi mengkerut keras. Dari bercanda hingga selisih yang tak bisa dihindari, lalu diam beberapa waktu dan salah satu kembali memulai menyapa.

Semula hanya kontak sesekali, lalu beberapa waktu mengulang hingga terjadi setiap hari, seolah ada yang kurang bila ini tak dilakukan. Bahkan pernah kehabisan bahan, ketika dering telpon sudah terangkat malah diam.

“Halo.”
“Iya halo.”
“Ada apa mas, tumben sepagi ini telpon.”
“Nggak ada apa-apa sih, tadi entah tiba-tiba pengen telpon kamu aja. Lagi sibuk ya?”
“Lagi beberes property anak-anak sih trus siap-siap ngantor.”
“Ya udah lanjut aja wis, nanti telat malah.”
“Iya, makasih ya.”
“Iya, kamu hati-hati ya.”
“Kamu juga, bye.”

Kamu ….? Sejak kapan ber-aku-kamu? Bukannya selama ini mas dan mbak? Entah kapan, kami lupa tepatnya tapi memang jadi lebih sering dengan aku dan kamu daripada sebelumnya.

“Aku mau ke Surabaya, bisa ketemu nggak?”
‘Kapan?”
“Kamu bisanya kapan?”
“Lah? Ini acara kantor atau pribadi?”
“Pribadi sih, makanya aku nyari waktu yang kamu bisa.”
“Aku kan deket kalau mau ke Surabaya, beda sama kamu yang jauh dan harus prepare lebih banyak.”
“Ah, kalau mau pun sekarang aku bisa kok terbang ke Surabaya.”
“Cieeee yang punya sayap ….”

Entah tiba-tiba setelah itu berharap dia datang beneran secepatnya. Padahal selama ini ngobrol di telpon pun terasa cukup. Hingga suatu waktu di hari libur bukan hari minggu.

“Aku nyampe Surabaya besok jam 6 pagi, bisa ketemu?”
“Hah? Kok nggak bilang dari kemarin-kemarin sih, untung aku nggak mudik.”
“Duh mbak ini rek … ditanya dari kemarin-kemarin nggak jawab, sekarang dikasitahu mendadak bukannya jawab bisa atau nggak malah nyalahin.”
“Bisa Kakak …… mau dijemput dimana baweeeelll ….”
“Di stasiun Gubeng ya, besok pagi. Nggak harus jam 6 tepat sih karena pasti kamu masih sibuk dengan anak-anak jam segitu, tapi jangan siang-siang ya ntar cuma sebentar lagi ketemunya.”
“Hahaha, siap bos!”
“Dah sana tidur, biar besok nggak kesiangan.”
“Good night.”

Kamu yakin aku langsung tidur setelah itu, pastinya nggak. Meskipun nggak tahu harus ngapain malam-malam melek tapi serius mataku nggak bisa diajak tidur. Terlelap setelah dipaksa merem, hasilnya sebentar-sebentar bangun karena takut kesiangan. Bener sih jam 3 pagi sudah bangun dan mulai beberes, satu jam kemudian mandi dan bersiap menjemputnya.

Taraaaa …. Jam 6 tet. Nyampe stasiun. Doi belum nongol. Iseng aja sms “aku di depan duduk deket gerai Alfamart” lalu send!

Tak ada balasan hingga beberapa menit, aku berpikir mungkin dia lagi sibuk bersiap turun karena dari informasi kereta dari Jakarta telah datang. Dan aku menunggu. Lima belas menit berlalu tak ada tanda dia datang. Aku mulai gelisah, takut kamu bohong. Aku mencoba menelpon tapi tak terangkat. Mataku mulai nanar kemana-mana, tak menemukan sosokmu meski hanya bayangan. Apakah kamu bohong? Atau sedang becanda semalam. Terkadang memang susah dibedakan kamu serius atau becanda. Tapi untuk apa ngerjain aku seperti ini?

Gelisah sudah mulai menyerangku dan aku mulai ketakutan. Takut bila kamu tak benar-benar datang, sementara aku sudah disini menunggu. Antara kesal dan malu bila benar kamu tak datang. Wajahku mulai memanas, pandanganku kabur. Ada genangan di pelupuk mata yang hampir tumpah. Kesal dan kecewa ternyata kamu tak muncul juga. Malu pastinya, aku sudah siap menyambutmu ternyata kamu hanya becanda. Tak terasa ada yang perih di pipi, meleleh.

Kakiku melangkah menuju parkiran sambil menunduk, kubiarkan airmata membasahi pipi. Tak kuhiraukan orang-orang di sekitar yang memandangku aneh. Iya, aku tidak sedang mengantar siapa-siapa tapi aku pergi dengan berurai airmata.

Braakk!!! Aku menabrak seseorang dan dia memelukku.

“Maaf, maaf .... aku sudah di depanmu sekarang. Jangan menangis lagi” ujarmu sambil mengusap airmataku.
Aku terdiam sesaat, memastikan suara itu dan benar itu kamu.
“Bisa nggak sih, lain kali becandanya biasa aja nggak usah kayak gini.”
“Maaf … Maaf … aku tadi juga bingung nggak tahu kenapa.”
“Bingung? Apa maksudmu? Aku sudah jauh-jauh kesini, datang pagi-pagi lalu kamu bingung dan tak segera menemuiku.”
“Bukan begitu …”
“Lalu apa? Mau ngerjain aku? Suka lihat aku menangis di tempat umum seperti ini. Kalau ini kamu pikir April Mop, selamat. Kamu sukses.”
“Oke, oke. Kamu berhak marah atas semua ini. Tapi aku bisa menjelaskan semuanya. Kita duduk dulu yuk. Jangan marah lagi ya, swear aku tak bermaksud apa-apa dan ini bukan April Mop.”

Kamu mengajakku masuk ke sebuah gerai kopi dan memesan kopi serta cemilan untuk kami. Aku masih cemberut di sofa gerai itu. Nggak habis pikir apa maunya. Kamu menghampiriku dan mulai menghapus airmataku dengan ibu jari. Aku masih terdiam kesal hingga pesanan itu datang ke meja kami.

Aku tak menyentuh kopi itu hingga kamu mengambilnya untukku. Rasanya masih sebel bangeeeeeettttt. Pengen segera hari ini berakhir.

“Maksud kamu apa sih dengan semua ini, aku sebel tauuuuu ….”
“Iya aku tahu kamu pasti sebel banget, tapi please jangan usir aku. Biarkan aku menjelaskan semuanya setelah itu terserah kamu.”
“Iya, kamu mau menjelaskan apa?”
“Aku sebenarnya baca sms-mu tadi tapi entahlah tiba-tiba aku merasa takut dan cemas.”
“Takut apa? Apa yang kau cemaskan?”
“Ini pertama kali kita bertemu setelah di kereta waktu itu.”
“Iya, lalu?”
“Saat membaca sms-mu tadi aku merasa sudah sangat dekat denganmu dan tak ingin jauh darimu.”
“Maksudnya?” dahiku mengernyit bingung.
“Iya, bolehkah aku memintamu menemani hari-hariku berikutnya? Tak masalah bila harus LDR asal kau berkenan, aku usahakan ada waktu untuk meet up. Saat melihatmu kebingungan tadi jujur aku tak ingin kehilanganku. Mungkin seperti itulah aku bila kehilangan kamu.”
“Jadi kamu seneng lihat aku kebingungan tadi?”
“Bukaaannn … ampun deh. Tapi demi melihatmu seperti tadi aku jadi berani mengungkapkan semua sekarang.”
“Oh, jadi begitu. Menurutmu aku bingung tadi karena takut kehilangan kamu, lantas kamu berani mengakui hal yang sama gitu. Kalau tadi aku cuek aja kamu juga cuek?”
“Aduh, susah memang ngomong sama betina kalau situasinya kayak gini. Tapi apapun itu, kamu tahu maksudku kan?”
“Tahu sih …. Terus apa?”
“Ya terus, kamu mau nggak? Kalau nggak kan mending aku langsung balik aja ke Jakarta sekarang.”
‘Eh tunggu! Enak aja mau kabur. Aku memang masih sebel sih karena tadi, tapi aku mau. Jadi jangan pergi, pleaseeee ….”

Ah, aku tahu kali ini wajahku tak kalah panasnya dengan tadi pagi. Tapi ini panas yang berbeda, bukan kesal tapi bahagia. Seperti kamu yang juga masih tegang karena kita sempat berantem tadi. Bedanya ketegangan itu kini telah terurai menjadi bahagia.

Hai Surabaya, terimakasih untuk semua ini.

You Might Also Like

0 komentar

Pengikut